Doa meningkatkan keimanan

Rangkaian-rangkaian kata yang terangkum dalam sebuah doa, biasanya merupakan untaian mutiara kata yang diFirmankan Allah dalam AlQuran yang suci nan langgeng, atau merupakan sabda Nabi agung, atau bisa pula merupakan untaian kalimat yang disusun oleh para sahabat dan para ulama pewaris Nabi. Namun akhir-akhir ini, cukup populer juga, doa yang tersusun dari kalimat-kalimat yang lebih kontemporer, kondisional dan menyesuaikan dengan kebutuhan. Terkadang lebih spesifik. Semuanya itu menurut pemahaman penulis adalah sesuatu yang sah-sah saja.

Dalam doa-doa keseharian yang telah diajarkan, tercantum berbagai khasiat yang bersifat menyadarkan dan motifatif.

Diantaranya terdapat makna-makna yang menunjukkan kesadaran kita sebagai hamba yang sangat membutuhkan Rabb nya. Betapa sungguh kita disadarkan bahwa Allah benar-benar terlibat dalam kehidupan ini, dan semua terjadi apabila Allah menghendaki pula. Makna-makna ini, bila kita resapi secara mendalam akan semakin meningkatkan rasa penghambaan dan membutuhkan pertolongan Allah.

Namun disisi lain, dalam doa terdapat pula berbagai pengajaran. Seperti diantaranya dalam doa makan, bahwa kita diajarkan untuk senantiasa mencari rezeki yang berkah dan jauh dari api neraka. Dalam doa masuk mesjid kita diajarkan untuk senantiasa mencari rahmat (kasih sayang) ketika kita memasuki Rumah Tuhan. Dalam doa keluar mesjid, kita diajarkan untuk mencari berbagai keutamaan dan fadilah dalam setiap ikhtiar duniawi kita. Makna-makna itu semua dapat difahami tatkala kita tidak menjadikan doa hanya sebagai sarana pasif tetapi juga sebagai pendorong wasilah-wasilah aktif. Inilah yang dimaksud motivasi dalam doa.

Kesemua makna tersebut pada akhirnya akan senantiasa melatih manusia untuk senantiasa menginngat Allah, menyadari kehadiran Allah, dan Allah dijadikan sebagai pendorong untuk melakukan berbagai aktifitas. Semakin sering mengamalkan doa-doa keseharian, Insya Allah akan semakin kita ingat kepada Allah, semakin teballah iman kita. Itu semua dapat terlaksana apabila kita mau untuk mencoba manisnya isi, tidak hanya berbangga atas kulit.

Pengamalannya lebih mudah daripada penulisan artikel ini. Ini yang disadari penulis, namun tidak menjadi penghalang bagi penulis untuk berbagi pengalaman sebagai wasilah berwasiat dalam kebaikan.

Iklan

Shalat dan Kedisiplinan

Dari sekian banyak hikmah yang dapat diambil dari menegakkan shalat adalah kedisiplinan waktu. Salah satu Firman Tuhan menyatakan bahwa ibadah shalat adalah ibadah yang diwajibkan dengan ketentuan waktu. Orang yang menegakkan shalat sudah barang tentu memiliki pribadi yang disiplin terhadap waktu.

Hikmah tersebut dapat dicapai dengan senantiasa mengusahakan diri shalat di awal waktu. Dengan mengusahakan shalat di awal waktu, maka kita akan terbiasa dengan hidup terjadwal. Dengan meyakini bahwa jadwal shalat adalah prioritas, maka kita akan membiasakan diri untuk senantiasa memanage aktifitas kita, jangan sampai jadwal shalat tergeser.

Mudah dituliskan tetapi tidak mudah untuk dilaksanakan. Allahumma ‘ainnii ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik

Pola Turunnya Al-Quran –> Pola Belajar

Al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur selama kurang lebih 23 tahun. Dalam Al-Quran sendiri diceritakan bahwa ada Kaum Quraisy yang mempertanyakan pola penurunan tersebut. Al-Quran sendiri yang menjawab bahwa turunnya Al-Quran secara berangsur merupakan suatu metode agar Al-Quran lebih mudah dipahami. Ayat Al-Quran diturunkan berangsur dengan tema yang sesuai dengan kondisi atau masalah yang dihadapi saat itu. Dengan pola ini, maka Rasul dan Para Sahabat dapat memahami secara dalam karena langsung menerapkan isi ayat Al-Quran terhadap kondisi atau permasalahan yang ada.

Dari uraian di atas, dapat diambil tiga pelajaran.

pertama, Allah mengajarkan metode yang alami kepada manusia. Allah tidak mengajarkan sesuatu yang fantastis, seperti dalam sekejap Al-Quran dipahami. Tetapi Allah mengajarkan suatu metode yang bisa diikuti oleh setiap manusia, sebuah metode yang wajar, namun memiliki hasil yang maksimal.

Kedua, memahami Ayat Al-Quran tidak bisa terlepas dari kondisi saat turunnya ayat. Dalam istilah ilmu tafsir, terkenal pentingnya asbabun-nuzul (sebab turunnya ayat).

Ketiga, mengenai metode pembelajaran. Allah adalah Sang Maha Guru. Manusia semakin hari semakin belajar melewati penelitian terhadap alam, ciptaan Sang Maha Guru. Melewati penurunan Al-Quran ini, nampaknya Allah mengajarkan kepada manusia bahwa pola belajar yang baik adalah pola belajar “learning by doing”, pola belajar yang diiringi dengan praktek. Selain itu, pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan. Maka, diperlukan perencanaan yang matang mengenai arah pembelajaran (misal jurusan kuliah), agar benar-benar sesuai dengan kebutuhan.

Wallahu a’lam

Umar Bin Abdul Aziz

Bismillahir rahmaanir rahiim
UMAR BIN ABDUL AZIZ
Oleh : Renny Ariyani
Sekilas Umar bin Abdul Aziz
Umar bin Abdul Aziz disebut para ulama sebagai khulafa’ur rasyidin ke-5, karena kesamaan manhaj kepemimpinan beliau dengan empat khalifah pertama penerus Rasulullah saw. Nama lengkapnya Abu Hafsh Umar bin Abdul Aziz Marwan bin Al-Hakam. Ia seorang pemimpin dari generasi tabi’in. Lahir di Halwan Mesir tahun 61 H. Dibai’at menjadi khalifah pada saat wafat saudara sepupunya, Sulaiman bin Abdul Malik, pada tahun 91 H.
Pada saat dibai’at Umar bin Abdul Aziz berpidato. ”Wahai manusia, sesungguhnya tidak ada kitab sesudah Al-Qur’an dan tidak ada nabi sesudah Muhammad saw. Saya bukanlah qadhi (hakim), tetapi saya adalah pelaksana. Saya bukanlah tukang bid’ah, tetapi pengikut setia. Dan saya bukanlah yang terbaik di antara kalian, tetapi saya adalah yang paling berat tanggung jawabnya di antara kalian. Orang yang lari dari imam yang zhalim, bukanlah kezhaliman. Ingatlah, tidak ada ketaatan pada makhluk dalam kemaksiatan pada Khalik,” begitu sebagian isi pidatonya.
Umar bin Abdul Aziz adalah pemimpin yang sangat wara’, zuhud, bersih, dan peduli pada umat. Istrinya menceritakan bahwa pada suatu hari sedang di kamar tidur dan ingat tentang akhirat, beliau gemetar seperti burung dalam air, duduk, dan menangis. Sedangkan perhatiannya kepada umat sangat besar. Ketika akan istirahat siang sejenak karena capai melaksanakan tugas, anaknya memberi nasihat, ”Apakah Ayah menjamin umur ayah akan panjang sesudah istirahat sehingga menunda banyak urusan yang harus diselesaikan?” Umar bin Abdul Aziz tidak jadi istirahat dan langsung meneruskan tugasnya.
Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah hanya dua tahun lebih. Tetapi pada masa itu sangat banyak kesuksesan yang beliau lakukan. Beliau yang menghapuskan caci-maki terhadap Imam Ali dan keluarganya yang dilakukan khatib saat khutbah Jum’at dan mengganti dengan membaca surat An-Nahl ayat 90. Sampai sekarang khutbah Jum’at membaca ayat itu mengikuti sunnah yang baik dari Umar bin Abdul Aziz. Beliau juga menolak Nepotisme dari keluarganya, Bani Umayyah.
Dalam masalah ilmu dan kekhusyu’an, Umar bin Abdul Aziz adalah termasuk ulama panutan. Berkata Maimun bin Mahran, ”Para ulama di hadapan Umar bin Abdul Aziz menjadi murid. Beliau adalah gurunya para ulama.” Di masa beliaulah penulisan hadits-hadits Rasululah saw. dilakukan sehingga berkembanglah tadwin hadits dan penulisan buku hadits.
Sedangkan ibadahnya sangat menyerupai Rasululah saw. Anas bin Malik r.a. berkata, ”Saya tidak shalat berjamaah bersama imam yang lebih menyerupai shalatnya Rasulullah daripada shalat bersama pemuda ini (Umar bin Abdul Aziz) ketika beliau di Madinah.” Anas meneruskan, ”Beliau menyempurnakan ruku’ dan sujud, dan memendekkan berdiri dan baca Al-Qur’an.”
Biografi
Keluarga
Ayahnya adalah Abdul-Aziz bin Marwan, gubernur Mesir dan adik dari Khalifah Abdul-Malik. Ibunya adalah Ummu Asim binti Asim. Umar adalah cicit dari Khulafaur Rasyidin kedua Umar bin Khattab, dimana Muslim Sunni menghormatinya sebagai salah seorang Sahabat Nabi yang paling dekat.
Silsilah
Umar dilahirkan sekitar tahun 682. Beberapa tradisi menyatakan ia dilahirkan di Madinah, sedangkan lainnya mengklaim ia lahir di Mesir. Umar dibesarkan di Madinah, dibawah bimbingan Ibnu Umar, salah seorang periwayat hadis terbanyak.
Menurut tradisi Muslim Sunni, silsilah keturunan Umar dengan Umar bin Khattab terkait dengan sebuah peristiwa terkenal yang terjadi pada masa kekuasaan Umar bin Khattab.
“Khalifah Umar sangat terkenal dengan kegiatannya beronda pada malam hari di sekitar daerah kekuasaannya. Pada suatu malam beliau mendengar dialog seorang anak perempuan dan ibunya, seorang penjual susu yang miskin.
Kata ibu “Wahai anakku, segeralah kita tambah air dalam susu ini supaya terlihat banyak sebelum terbit matahari”
Anaknya menjawab “Kita tidak boleh berbuat seperti itu ibu, Amirul Mukminin melarang kita berbuat begini”
Si ibu masih mendesak “Tidak mengapa, Amirul Mukminin tidak akan tahu”.
Balas si anak “Jika Amirul Mukminin tidak tahu, tapi Tuhan Amirul Mukminin tahu”.
Umar yang mendengar kemudian menangis. Betapa mulianya hati anak gadis itu.
Ketika pulang ke rumah, Umar bin Khattab menyuruh anak lelakinya, Asim menikahi gadis itu.
Kata Umar, “Semoga lahir dari keturunan gadis ini bakal pemimpin Islam yang hebat kelak yang akan memimpin orang-orang Arab dan Ajam”.
Asim yang taat tanpa banyak tanya segera menikahi gadis miskin tersebut. Pernikahan ini melahirkan anak perempuan bernama Laila yang lebih dikenal dengan sebutan Ummu Asim. Ketika dewasa Ummu Asim menikah dengan Abdul-Aziz bin Marwan yang melahirkan Umar bin Abdul-Aziz.
Kehidupan awal
Umar dibesarkan di Madinah, dibawah bimbingan Ibnu Umar, salah seorang periwayat hadis terbanyak. Ia tinggal di sana sampai kematiannya ayahnya, dimana kemudian ia dipanggil ke Damaskus oleh Abdul-Malik dan menikah dengan anak perempuannya Fatimah. Ayah mertuanya kemudian segera meninggal dan ia diangkat pada tahun 706 sebagai gubernur Madinah oleh khalifah Al-Walid
715 – 715: era Al-Walid I
Tidak seperti sebagaian besar penguasa pada saat itu, Umar membentuk sebuah dewan yang kemudian bersama-sama dengannya menjalankan pemerintahan provinsi. Masa di Madinah itu menjadi masa yang jauh berbeda dengan pemerintahan sebelumnya, dimana keluhan-keluhan resmi ke Damaskus berkurang dan dapat diselesaikan di Madinah, sebagai tambahan banyak orang yang berimigrasi ke Madinah dari Iraq, mencari perlindungan dari gubernur mereka yang kejam, Al-Hajjaj bin Yusuf. Hal tersebut menyebabkan kemarahan Al-Hajjaj, dan ia menekan al-Walid I untuk memberhentikan Umar. al-Walid I tunduk kepada tekanan Al-Hajjaj dan memberhentikan Umar dari jabatannya. Tetapi sejak itu, Umar sudah memiliki reputasi yang tinggi di Kekhalifahan Islam pada masa itu.
Pada era Al-Walid I ini juga tercatat tentang keputusan khalifah yang kontroversial untuk memperluas area disekitar masjid Nabawi sehingga rumah Rasulullah ikut direnovasi. Umar membacakan keputusan ini di depan penduduk Madinah termasuk ulama mereka, Said Al Musayyib sehingga banyak dari mereka yang mencucurkan air mata. Berkata Said Al-Musayyib : “Sungguh aku berharap agar rumah Rasulullah tetap dibiarkan seperti apa adanya sehingga generasi Islam yang akan datang dapat mengetahui bagaimana sesungguhnya tata cara hidup beliau yang sederhana”
715 – 717: era Sulaiman
Umar tetap tinggal di Madinah selama masa sisa pemerintahan al-Walid I dan kemudian dilanjutkan oleh saudara al-Walid, Sulaiman. Sulaiman, yang juga merupakan sepupu Umar selalu mengagumi Umar, dan menolak untuk menunjuk saudara kandung dan anaknya sendiri pada saat pemilihan khalifah dan menunjuk Umar.
Kedekatan Umar dengan Sulaiman
Sulaiman bin Abdul-Malik merupakan sepupu langsung dengan Umar. Mereka berdua sangat erat dan selalu bersama. Pada masa pemerintahan Sulaiman bin Abdul-Malik, dunia dinaungi pemerintahan Islam. Kekuasaan Bani Umayyah sangat kukuh dan stabil.
Suatu hari, Sulaiman mengajak Umar ke markas pasukan Bani Umayyah.
Sulaiman bertanya kepada Umar “Apakah yang kau lihat wahai Umar bin Abdul-Aziz?” dengan niat agar dapat membakar semangat Umar ketika melihat kekuatan pasukan yang telah dilatih.
Namun jawab Umar, “Aku sedang lihat dunia itu sedang makan antara satu dengan yang lain, dan engkau adalah orang yang paling bertanggung jawab dan akan ditanyakan oleh Allah mengenainya”.
Khalifah Sulaiman berkata lagi “Engkau tidak kagumkah dengan kehebatan pemerintahan kita ini?”
Balas Umar lagi, “Bahkan yang paling hebat dan mengagumkan adalah orang yang mengenali Allah kemudian mendurhakai-Nya, mengenali setan kemudian mengikutinya, mengenali dunia kemudian condong kepada dunia”.
Jika Khalifah Sulaiman adalah pemimpin biasa, sudah barang tentu akan marah dengan kata-kata Umar bin Abdul-Aziz, namun beliau menerima dengan hati terbuka bahkan kagum dengan kata-kata itu.
Menjadi khalifah
Umar menjadi khalifah menggantikan Sulaiman yang wafat pada tahun 716. Beliau di bai’at sebagai khalifah pada hari Jumat setelah shalat Jumat. Hari itu juga setelah ashar, rakyat dapat langsung merasakan perubahan kebijakan khalifah baru ini. Khalifah Umar, masih satu nasab dengan Khalifah kedua, Umar bin Khattab dari garis ibu.
Zaman pemerintahannya berhasil memulihkan keadaan negaranya dan mengkondisikan negaranya seperti saat 4 khalifah pertama (Khulafaur Rasyidin) memerintah. Kebijakannya dan kesederhanaan hidupnya pun tak kalah dengan 4 khalifah pertama itu. Karena itu banyak ahli sejarah menjuluki beliau dengan Khulafaur Rasyidin ke-5. Khalifah Umar ini hanya memerintah selama tiga tahun kurang sedikit. Menurut riwayat, beliau meninggal karena dibunuh (diracun) oleh pembantunya.
Sebelum menjabat
Menjelang wafatnya Sulaiman, penasihat kerajaan bernama Raja’ bin Haiwah menasihati beliau, “Wahai Amirul Mukminin, antara perkara yang menyebabkan engkau dijaga di dalam kubur dan menerima syafaat dari Allah di akhirat kelak adalah apabila engkau tinggalkan untuk orang Islam khalifah yang adil, maka siapakah pilihanmu?”. Jawab Khalifah Sulaiman, “Aku melihat Umar Ibn Abdul Aziz”.
Surat wasiat diarahkan supaya ditulis nama Umar bin Abdul-Aziz sebagai penerus kekhalifahan, tetapi dirahasiakan darai kalangan menteri dan keluarga. Sebelum wafatnya Sulaiman, beliau memerintahkan agar para menteri dan para gubernur berbai’ah dengan nama bakal khalifah yang tercantum dalam surat wasiat tersebut.
Naiknya Umar sebagai Amirul Mukminin
Seluruh umat Islam berkumpul di dalam masjid dalam keadaan bertanya-tanya, siapa khalifah mereka yang baru. Raja’ Ibn Haiwah mengumumkan,
“Bangunlah wahai Umar bin Abdul-Aziz, sesungguhnya nama engkaulah yang tertulis dalam surat ini”.
Umar bin Abdul-Aziz bangkit seraya berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya jabatan ini diberikan kepadaku tanpa bermusyawarah dahulu denganku dan tanpa pernah aku memintanya, sesungguhnya aku mencabut bai’ah yang ada dileher kamu dan pilihlah siapa yang kalian kehendaki”.
Umat tetap menghendaki Umar sebagai khalifah dan Umar menerima dengan hati yang berat, hati yang takut kepada Allah dan tangisan. Segala keistimewaan sebagai khalifah ditolak dan Umar pulang ke rumah.
Ketika pulang ke rumah, Umar berfikir tentang tugas baru untuk memerintah seluruh daerah Islam yang luas dalam kelelahan setelah mengurus jenazah Khalifah Sulaiman bin Abdul-Malik. Beliau berniat untuk tidur.
Pada saat itulah anaknya yang berusia 15 tahun, Abdul-Malik masuk melihat ayahnya dan berkata, “Apakah yang sedang engkau lakukan wahai Amirul Mukminin?”.
Umar menjawab, “Wahai anakku, ayahmu letih mengurusi jenazah bapak saudaramu dan ayahmu tidak pernah merasakan keletihan seperti ini”.
“Jadi apa engkau akan buat wahai ayah?”, Tanya anaknya ingin tahu.
Umar membalas, “Ayah akan tidur sebentar hingga masuk waktu zuhur, kemudian ayah akan keluar untuk shalat bersama rakyat”.
Apa pula kata anaknya apabila mengetahui ayahnya Amirul Mukminin yang baru “Ayah, siapa pula yang menjamin ayah masih hidup sehingga waktu zuhur nanti sedangkan sekarang adalah tanggungjawab Amirul Mukminin mengembalikan hak-hak orang yang dizalimi” Umar ibn Abdul Aziz terus terbangun dan membatalkan niat untuk tidur, beliau memanggil anaknya mendekati beliau, mengucup kedua belah mata anaknya sambil berkata “Segala puji bagi Allah yang mengeluarkan dari keturunanku, orang yang menolong aku di atas agamaku”
Pemerintahan Umar bin Abdul-Aziz
Hari kedua dilantik menjadi khalifah, beliau menyampaikan khutbah umum. Dihujung khutbahnya, beliau berkata “Wahai manusia, tiada nabi selepas Muhammad saw dan tiada kitab selepas alQuran, aku bukan penentu hukum malah aku pelaksana hukum Allah, aku bukan ahli bid’ah malah aku seorang yang mengikut sunnah, aku bukan orang yang paling baik dikalangan kamu sedangkan aku cuma orang yang paling berat tanggungannya dikalangan kamu, aku mengucapkan ucapan ini sedangkan aku tahu aku adalah orang yang paling banyak dosa disisi Allah” Beliau kemudian duduk dan menangis “Alangkah besarnya ujian Allah kepadaku” sambung Umar Ibn Abdul Aziz.
Beliau pulang ke rumah dan menangis sehingga ditegur isteri “Apa yang Amirul Mukminin tangiskan?” Beliau mejawab “Wahai isteriku, aku telah diuji oleh Allah dengan jawatan ini dan aku sedang teringat kepada orang-orang yang miskin, ibu-ibu yang janda, anaknya ramai, rezekinya sedikit, aku teringat orang-orang dalam tawanan, para fuqara’ kaum muslimin. Aku tahu mereka semua ini akan mendakwaku di akhirat kelak dan aku bimbang aku tidak dapat jawab hujah-hujah mereka sebagai khalifah kerana aku tahu, yang menjadi pembela di pihak mereka adalah Rasulullah saw’’ Isterinya juga turut mengalir air mata.
Umar Ibn Abdul Aziz mula memeritah pada usia 36 tahun sepanjang tempoh 2 tahun 5 bulan 5 hari. Pemerintahan beliau sangat menakjubkan. Pada waktu inilah dikatakan tiada siapa pun umat Islam yang layak menerima zakat sehingga harta zakat yang menggunung itu terpaksa diiklankan kepada sesiapa yang tiada pembiayaan untuk bernikah dan juga hal-hal lain.
Surat dari Raja Sriwijaya
Tercatat Raja Sriwijaya pernah dua kali mengirimkan surat kepada khalifah Bani Umayyah. Yang pertama dikirim kepada Muawiyah I, dan yang ke-2 kepada Umar bin Abdul-Aziz. Surat kedua didokumentasikan oleh ‘Abd Rabbih (860-940) dalam karyanya Al-Iqdul Farid. Potongan surat tersebut berbunyi[3]:
Dari Rajadiraja…; yang adalah keturunan seribu raja … kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan yang lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekedar tanda persahabatan; dan saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya, dan menjelaskan kepada saya hukum-hukumnya.
Hari-hari terakhir Umar bin Abdul-Aziz
Umar bin Abdul-Aziz wafat disebabkan oleh sakit akibat diracun oleh pembantunya. Umat Islam datang berziarah melihat kedhaifan hidup khalifah sehingga ditegur oleh menteri kepada isterinya, “Gantilah baju khalifah itu”, dibalas isterinya, “Itu saja pakaian yang khalifah miliki”.
Apabila beliau ditanya “Wahai Amirul Mukminin, tidakkah engkau mau mewasiatkan sesuatu kepada anak-anakmu?”
Umar Abdul Aziz menjawab: “Apa yang ingin kuwasiatkan? Aku tidak memiliki apa-apa”
“Mengapa engkau tinggalkan anak-anakmu dalam keadaan tidak memiliki?”
“Jika anak-anakku orang soleh, Allah lah yang menguruskan orang-orang soleh. Jika mereka orang-orang yang tidak soleh, aku tidak mau meninggalkan hartaku di tangan orang yang mendurhakai Allah lalu menggunakan hartaku untuk mendurhakai Allah”
Pada waktu lain, Umar bin Abdul-Aziz memanggil semua anaknya dan berkata: “Wahai anak-anakku, sesungguhnya ayahmu telah diberi dua pilihan, pertama : menjadikan kamu semua kaya dan ayah masuk ke dalam neraka, kedua: kamu miskin seperti sekarang dan ayah masuk ke dalam surga (kerana tidak menggunakan uang rakyat). Sesungguhnya wahai anak-anakku, aku telah memilih surga.” (beliau tidak berkata : aku telah memilih kamu susah)
Anak-anaknya ditinggalkan tidak berharta dibandingkan anak-anak gubernur lain yang kaya. Setelah kejatuhan Bani Umayyah dan masa-masa setelahnya, keturunan Umar bin Abdul-Aziz adalah golongan yang kaya berkat doa dan tawakkal Umar bin Abdul-Aziz.

Sumber:
1. http://www.dakwatuna.com
2. wikipedia.org

0 dan 1 dalam sinyal dan kehidupan

Suatu saat saya berbincang-bincang dengan atasan saya. Dari perbincangan itu, ada wacana yang nampaknya baik pula untuk saya bagi.

Nampaknya, ada semacam keserasian antara berbagai disiplin ilmu. Karena apapun ilmu itu, semuanya adalah hasil penelitian dari alam ini yang nota bene diciptakan oleh satu Pencipta, dan dengan satu konsep penciptaan. Saya mendapati adanya kesamaan, antara bagaimana memproses sinyal komunikasi dengan bagaimana kita menghadapi hidup ini.

Dalam teori telekomunikasi, dengan berbagai pertimbangan tertentu, maka sinyal ditransmisikan dalam bentuk biner, kalau tidak bernilai 0, ya bernilai 1. Dalam kenyataanya, sinyal dengan nilai 0 dan 1 yang bervariasi ini (misal: 0100111100) dalam perjalanannya menuju tujuan, pasti mengalami berbagai gangguan (dalam istilah telekomunikasi : noise, interferens, dll.). Sehingga sinyal 0 dan 1 ini tidak benar-benar murni 0 dan 1. Agar sinyal yang sudah tidak murni itu dapat diterima dengan benar oleh tujuan, maka diperlukan suatu proses. Proses yang dimaksud adalah suatu proses yang membuat suatu sinyal dengan nilai tertentu, ditentukan sebagai nilai 0 atau 1, tergantung nilai itu mendekati ke mana, dan seberapa jauh toleransi yang diberikan. Pada akhirnya, bagianyang dituju mendapat sinyal yang sesuai dengan sinyal yang dikirim. Adapun terjadi kekeliruan, itu pun dengan peluang yang sangat kecil.

Begitu pula dengan cara kita menghadapi hidup. Suatu pedoman yang telah digariskan oleh Tuhan, tentunya telah menentukan mana hitam dan mana putih (0 dan 1). Dalam realita di masyarakat, pada umumnya idealisme yang telah digariskan (hitam dan putih) itu akan mengalami berbagai penyimpangan dan perubahan. Menghadapi kenyataan seperti itu, maka alangkah baiknya bila kita memiliki sikap toleransi dalam menentukan hitam dan putih tersebut. Alangkah bijaksana apabila kita tidak mematok bahwa putih itu harus benar-benar “1”. Adakalanya nilai “1” itu merupakan pembulatan dari “0,76”. Itulah realita yang terjadi. Sikap ini akan timbul, bila kita memiliki wawasan yang terbuka dan mampu melihat dari berbagai macam sudut. Mungkinkah ini terjadi, bila kita masih mengagung-agungkan kelompok kita sendiri, dan kemudian mengucilkan diri?

Bola

bola2

bola2

Suatu saat seorang profesor melakukan sebuah simulasi. Dia membawa satu ember, dua bola besar (memang besarnya tidak melebihi besarnya ember), sekarung kecil bola-bola kecil dan sekarung pasir. Kemudian sang profesor menyuruh dua mahasiswa untuk melakukan dua hal yang berbeda. pertama, mahasiswa disuruh untuk memasukan pasir, kemudian batu kecil dan akhirnya bola besar. Kedua, mahasiswa yang lain disuruh untuk memasukkan dua bola besar dahulu, kemudian memenuhi embernya dengan batu-batu kecil, dan akhirnya dengan pasir. Ternyata, mahasiswa kedua mampu memasukan semuanya, dan mahasiswa pertama tidak dapat memasukan satu bola besar karena ember telah terpenuhi material yang lain.

Berdasarkan simulasi di atas, Sang Profesor mengajukan satu pertanyaan kepada para mahasiswa. Hikmah apa yang didapatkan dari simulasi di atas? Ada satu mahasiswa yang menjawab bahwa berdasarkan simulasi itu, kita harus mengisi waktu kita dengan berbagai kegiatan mulai dari kegiatan yang besar sampai dengan kegiatan yang kecil sebesar pasir. Kemudian sang Profesor menanggapi jawaban mahasiswa itu. Sang Profesor mengemukakan bahwa jawaban sang mahasiswa benar, namun ada yang lebih penting dari makna itu. Bahwa, untuk mengisi waktu hidup kita, utamakanlah dahulu mengisi waktu dengan hal-hal yang penting seperti bola-bola besar. Kemudian, baru kita lengkapi dengan kegiatan-kegiatan lainnya yang lebih kecil. Apabila kita lebih mengutamakan memasukkan pasir dan batu kecil, maka dikhawatirkan, batu besarnya tidak akan masuk ke dalam ember.

Pertanyaan untuk kita semua: Apakaha bola besar dalam hidup kita?

Keistimewaan Bulan Ramadhan dan Doa-doa Pilihan *

Puasa pada bulan Ramadhan adalah wajib dikerjakan oleh setiap orang Islam. Kewajiban puasa Ramadhan berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah dan Ijma’.
Allah SWT berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa … (QS. Al-Baqarah: 185) Read more »

Demokratisasi sebagai Proses

Oleh Abdurrahman Wahid*

Beberapa hari yang lalu penulis artikel ini diundang seorang teman untuk bertemu sekitar 200 lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang ada di negeri kita.

Dalam pertemuan itu sudah tentu ada berbagai pandangan yang saling berbeda. Tuan rumah menyatakan dalam pidato yang disertai dokumentasi yang kuat bahwa sebaiknya penulis artikel meninggalkan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk lebih mengonsentrasikan diri pada perjuangan menegakkan demokrasi.

Ia menyatakan, apa yang dikemukakannya itu menjadi sangat penting karena penulis artikel ini adalah seorang pejuang yang meyakini pentingnya demokratisasi. Hal ini telah dibuktikan dalam masa yang sangat panjang, yaitu sejak pemerintahan Orde Baru berkuasa. Namun, ada hal yang harus diingat bagi kepentingan kita bersama. Penulis artikel ini ”mempertahankan” sikapnya bahwa undang-undang telah menetapkan pentingnya arti sebuah partai politik (parpol). Read more »

Islam Instant

Zaman sekarang, orang sudah terbiasa dengan apa-apa yang serba instant. Tidak terlepas juga dengan kehidupan beragama di kalangan umat Islam. Nampak di permukaan, bahwa Islam Instant mulai menjamur.

Sebetulnya, merupakan kegembiraan bagi kita semua, bahwa kesadaran beragama di kalangan umat Islam pada saat ini semakin meningkat. Di sekolah, kampus, maupun tempat umum, semakin banyak muslimah mengenakan jilbab. Bahkan saat ini, tidak sedikit pria yang mengurus janggut dan kemudian mengenakan pakaian “takwa” dengan celana sampai betis atau mata kaki.

Namun, peningkatan di atas, nampaknya diiringi pula dengan penurunan kualitas pemahaman Islam, alias pendangkalan Islam. Read more »

Kado WiMAX di Pekan Ulang Tahun

Tanggal 15 juli kemarin, penulis, menurut hitungan masehi, genap berusia 23 tahun. Rasa syukur harus senantiasa tumbuhkan dalam diri penulis. Selama 23 tahun, penulis merasakan nikmat dari Sang Pencipta yang tidak mungkin penulis balas. Introspeksi diri menjadi salah satu target agenda harian penulis. Sejauh mana penulis menghamba dan berserah diri kepada Allah? Sudah seberapa besarkah pengorbanan penulis untuk senantiasa belajar dan berjuang keras memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas penghambaan? Semakin sering pertanyaan itu muncul, maka semakin sering pula rasa sesal dalam diri. Di lain pihak, penulis juga mengamati betapa banyak sahabat maupun kenalan, yang kini telah jauh melangkah di depan penulis. Read more »