MENYIKAPI AHMADIYAH

Beberapa pekan ini, masyarakat Indonesia, terutama umat Muslim, diributkan dengan masalah Ahmadiyah (sekarang SKB Ahmadiyyah telah turun). Beberapa kalangan menginginkan Ahmadiyah untuk dibubarkan di Bumi Pertiwi ini. Tetapi, ada pula kalangan yang membela eksistensi Ahamdiyah di Negeri kita yang tercinta ini. Problem ini hanyalah satu dari sekian tanda bahwa masyarakat Muslim di Indonesia memiliki pandangan yang berbeda-beda dalam menyikapi suatu masalah. Kasus perbedaan pendapat ini merupakan warisan yang telah turun temurun. Kita mendengar dalam sejarah tentang kehadiran kaum Khawarij, Mu’tazilah, Syi’ah dan Sunni dan yang lainnya. Bagaimana sebetulnya Islam menyikapi kasus perbedaan ini?

Sebelum kita membahas sikap Agama kita ini, maka ada baiknya kita membahas terlebih dahulu, bagaimana kelompok lain dalam menyikapi perbedaan ini.

Telah kita ketahui bersama dalam sejarah mengenai peristiwa penyaliban orang yang dianggap Isa as. (menurut Kaum Kristen adalah memang benar-benar Isa yang disalib). Peristiwa tersebut merupakan hasil dari reaksi Petinggi Yahudi terhadap kemunculan Isa Putra Maryam yang mengaku sebagai Utusan Allah SWT. Kemunculan Isa sebagai Nabi tidak sejalan dengan keinginan/ keyakinan para Petinggi Yahudi, alias terjadi perbedaan. Dan pada akhirnya, Petinggi Yahudi tersebut menyikapi perbedaan tersebut dengan sebuah sikap yang tidak akomodatif malah mendorong terjadinya peristiwa Penyaliban dan penyiksaan terhadap para pengikut Isa as. Atas nama menjaga kesucian Agama Yahudi, maka Petinggi Yahudi tersebut menyatakan sikap dan statement yang mengakibatkan peristiwa tragis tersebut. Tentu kita bersama mengakui bahwa sikap Petinggi Yahudi itu tidak dapat kita benarkan meskipun sikap mereka itu katanya didasari oleh semangat menjaga kesucian Agama.

Selanjutnya, mengenai perlakuan Musyrik Quraisy terhadap Nabi Kita, Muhammad saw. Sejarah mencatat bahwa alasan utama mengapa Muhammad saw dan pengikutnya diperlakukan secara tidak manusiawi adalah ajaran Muhammad dianggap telah menodai dan menghina ajaran Nenek Moyang Kaum Quraisy/ Masyarakat Musyrik Arab saat itu. Muhammad dan pengikutnya dihina, dianiaya, diasingkan, diusir, bahkan diperangi. Jelas sudah, bahwa kita semua telah sepakat bahwa perlakuan Kaum Quraisy tersebut menjadi catatan mengerikan dalam sejarah.

Nah, mari kita lanjutkan pembahasan kita. Bagaimana sikap Islam mengenai perbedaan ini? Tentu, sebagai Manhaj dan Syariat yang benar, maka Islam tidak akan bersikap seperti dua contoh di atas. Apakah karena keyakinan akan kebenaran Islam, lantas kita membenarkan suatu sikap dimana sikap tersebut akan menjadi tercela bila dilakukan atas keyakinan yang lain? Tentu tidak, Bung!

Kalau kita mau jujur, maka antara kedua contoh di atas dengan keinginan terhadap pembubaran Ahmadiyyah memiliki semangat yang sama dan sikap yang intinya sama, meskipun intensitas pada prakteknya masih jauh berbeda. Apa kita akan membenarkan perbuatan ini? Kalau kita menganggap ini benar karena umat Islam yang melakukannya, maka akibatnya akan buruk. Setiap Agama akan membenarkan sikap pemaksaan terhadap umat lain hanya karena landasan keimanan masing-masing. Setiap umat berhak untuk beriman pada keyakinannya. Bila ini terjadi, maka seolah-olah tidak ada hukum standar yang dapat dipegang secara bersama-sama.

Lantas sikap apa yang sebetulnya oleh Islam tawarkan? Penulis belum mampu mengutip ayat Al-Quran lantas kemudian menafsirkannya karena itu di luar kemampuan penulis yang hanya berprofesi sebagai Konsultan Telekomunikasi “ecek-ecek”. Namun penulis hanya sekedar mendayagunakan kemampuan yang ada. Paling-paling hanya mengutip beberapa ayat atau hadis sebagai landasan saja.

Menurut penulis, sikap yang ditawarkan oleh Islam (agama damai, selamat) tertera pada Q.S. An-Nahl ayat 125, yang berbunyi Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. Pada intinya jalan dialog lah yang menjadi solusi yang Islam tawarkan. Dialog intern umat beragama, dialog ekstern umat beragama harus menjadi suatu kebiasaan bagi umat Islam. Ada beberapa point yang harus ada supaya jalan dialog berjalan dengan baik:

· Dialog dilaksanakan oleh semua pihak sebagai sarana untuk mencari kebenaran yang lebih sempurna dan titik temu, bukan untuk mempertahankan pendapat masing-masing.

· Semua pihak harus terbuka terhadap pihak lainnya sehingga terjadi proses berpendapat dan mendengarkan pendapat.

· Menjauhi prasangka. Dengan prasangka, maka tertutuplah pintu keterbukaan.

Proses dialog sama sekali tidak akan mengurangi kehormatan Islam. Justru orang yang tidak berani berdialog, maka seolah-olah tidak memiliki kepercayaan diri akan keyakinannya, dan pada akhirnya melakukan jalan pintas dengan jalur paksa. Hal ini lah yang justru akan menurunkan kehormatan dari suatu keyakinan.

Sikap yang cenderung memaksa apalagi merusak bukanlah sikap yang Islam ajarkan. Tindakan yang keras (peperangan) baru diperbolehkan apabila umat teraniaya, dalam bahasa Islam disebutkan kondisi “ukhrijuu min diyaarihim” (terusir dari daerahnya). Sikap pemaksaan hanya akan menodai Islam itu sendiri. Islam mengajarkan kedamaian dalam Q.S. Al-Anbiya ayat 107: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. “.

Keyakinan bukanlah sesuatu yang dapat dipaksakan. Keyakinan itu tumbuh layaknya bunga yang senantiasa dirawat dan diberi nutrisi. Maka meluruskan keyakinan haruslah dilakukan dengan cara yang simpatik seperti yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. Jangankan dipaksakan akan suatu keyakinan, dalam kehidupan saat ini tidak sedikit orang merasa tersinggung bila ia ditegur. Apalagi kalau ia dipaksa dengan keyakinan tertentu. Maka kita dituntut untuk bersabar dalam melakukan nasihat-nasihat yang simpatik. Seperti yang di-Firman-kan Allah dalam surah Al-‘Ashr ayat 3. Sejarah membuktikan bahwa sebuah keyakinan tidak akan pudar oleh pemaksaan dan penindasan. Malah beberapa Agama besar di dunia mengalami kemajuan yang pesat setelah melewati masa-masa sulit itu.

Dari kondisi pro dan kontra Ahmadiyyah ini (meskipun SKB telah dikeluarkan) maka kita dapat mengambil beberapa pelajaran:

· Harus berhati-hati terhadap data fakta yang didapatkan. Verifikasi data dan sebaiknya data yang kita dapatkan selengkap mungkin. Hal ini dilakukan agar kita tidak terjerumus pada kesimpulan yang semakin menyesatkan. Apalagi pada saat-saat ini, merupakan rahasia umum, bahwa pada setiap peristiwa-peristiwa heboh selalu ada dalang dibaliknya dengan tujuan yang mungkin diluar dugaan masyarakat.

· Bahwa masyarkat muslim Indonesia adalah heterogen. Untuk menyikapi ini maka perlu suatu keterbukaan yang memungkinkan jalan dialog menuju kesepakatan bersama dengan tidak mengabaikan prinsip masing-masing

Wallahu a’lam.

Iklan

2 comments so far

  1. bangzenk on

    Supakat kang Deden. Hmm, emang abot ieu bahasan teh. Tapi nya memang urang ge kudu mawas diri. Ulah dugika ter-PROVOKASI.

    wilujeng nge-blog. saukur saran, kanggo image pados rada “matching” bisa diatur posisinya dibagian “posisi gambar”. Atau kalo susah, setelah masukin gambar, tambahin kode html “hspace=’10′” dan “vspace=’10′” setelah “<a”.

    met mencoba 🙂

    salamhangat
    berbagi cerita..

  2. dedenrudiansyah on

    hehe… nuhun kana saran na.
    Maklum baru2 ini coba bikin blog.

    ma’assalam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: