Ketika Anda Mendengar Berita dan Informasi…

Artikel ini ditulis sebagai respon dari kondisi saat ini, dimana informasi begitu mudahnya didapatkan. Saking mudahnya, maka ada pula pihak yang begitu mudahnya menyebarkan informasi yang tidak benar. Boleh jadi informasi yang tidak tepat lebih cepat menyebar daripada informasi yang akurat.

Allah berfirman dalam Al-Hujurat ayat 6:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Ayat ini bisa menjadi acuan bagi kita dalam menanggapi informasi. Bukan berarti penulis mengannggap bahwa semua pembawa berita saat ini (baik itu via media massa, internet, dll) adalah orang-orang fasik. Namun penulis menekankan pada anjuran untuk senantiasa memeriksa dengan teliti terhadap berita yang didapatkan. Saat ini, satu peristiwa bisa diberitakan dengan isi dan maksud yang berbeda. Maka dari itu, sungguh arif bila kita memilah, meneliti, berita yang didapatkan, agar kita tidak melakukan kesalahan seperti yang tertulis pada ayat di atas.

Apa implikasinya, bila kita tidak memperhatikan hal ini? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita lakukan sedikit perenungan. rileks-rileks aja.

Ada kecenderungan seseorang memiliki kefanatikan terhadap berita yang diterima. Apalagi kalau berita itu disampaikan oleh orang yang dihormati, figur yang disegani, ataupun dari lembaga tertentu. Bisa pula karena secara sadar dan melalui proses berpikir, kemudian kita mempercayai suatu berita. Opini di atas terbukti, tatkala, misalnya dua orang bertemu, kemudian berdiskusi mengenai perkara yang sama. Masing-masing mempertahankan pendapatnya masing-masing, yakni pendapat yang disarikan dari berita yang diperolehnya. Masing-masing bersikeras untuk mempertahankan pemikiran orang lain yang diyakininya. Sungguh unik, pada sisi ini, seseorang sampai habis-habisan mempertahankan “milik” orang lain. Padahal pada sisi kehidupan yang lain, jarang sekali fenomena ini ditemukan. Biasanya diskusi seperti ini berujung kurang baik, dan mengakibatkan penyesalan, seperti disampaikan pada ayat di atas.

Untuk meyikapi hal ini, penulis menyampaikan beberapa tips:

  1. Jangan puas dengan satu berita saja. Kebenaran belum tentu didapatkan dari satu beu rita saja. Sikap ini akan mendorong keterbukaan terhadap berita-berita dengan versi yang berbeda. Sikap keterbukaan itu penting karena tanpa sikap ini, seseorang hanya akan memandang berita yang berbeda secara sebelah mata.
  2. Lebih baik untuk berbaik sangka daripada berburuk sangka. Putusnya keinginan untuk menerima berita dari suatu pihak biasanya disebabkan oleh prasangka yang tidak baik sehingga menyebabkan ketidakpercayaan.
  3. Terapkan peribahasa “Bodo Alewoh” (peribahasa Sunda). Maksudnya selalu merasa kurang ilmu, sehingga selalu berusaha untuk mencari. Biasanya, kalau sudah terjangkit perasaan Merasa Benar, maka agak sulit juga untuk bersikap objektif.
Iklan

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: