Islam Instant

Zaman sekarang, orang sudah terbiasa dengan apa-apa yang serba instant. Tidak terlepas juga dengan kehidupan beragama di kalangan umat Islam. Nampak di permukaan, bahwa Islam Instant mulai menjamur.

Sebetulnya, merupakan kegembiraan bagi kita semua, bahwa kesadaran beragama di kalangan umat Islam pada saat ini semakin meningkat. Di sekolah, kampus, maupun tempat umum, semakin banyak muslimah mengenakan jilbab. Bahkan saat ini, tidak sedikit pria yang mengurus janggut dan kemudian mengenakan pakaian “takwa” dengan celana sampai betis atau mata kaki.

Namun, peningkatan di atas, nampaknya diiringi pula dengan penurunan kualitas pemahaman Islam, alias pendangkalan Islam. Ini semua merupakan cermin dari perilaku masyarakat kita yang cenderung senang dengan apa-apa yang serba instant. yang dimaksud dengan Islam instant disini adalah Islam yang ditunjukkan dengan simbol-simbol agama yang menjadi jalan pintas untuk menunjukkan keislaman. Islam ditunjukkan hanya dengan penampilan luar, seperti pakaian “takwa”. Kaum pelajar sudah merasa bangga bila telah menghafal beberapa juz Al-Quran, meksipun belum tentu mereka memahami makna secara mendalam. Memang, ini merupakan jalan pintas bagi kalangan tertentu mengingat mereka telah terbiasa dengan proses belajar yang intensif sehari-hari. Nampak sekali, pada kalangan ini, mereka lebih mengutamakan kuatnya hafalan dibandingkan dengan pengamalan akhlaq yang baik sehari-hari. Penulis sendiri pernah melihat, seseorang dengan pakain takwa-nya terlambat sekitar satu jam saat kuliah. Bukankah beliau menampilkan sesuatu yang kontradiktif?

Penulis akui, penampilan luar bisa menjadi bagian dari ibadah yang disyari’atkan. Banyak orang enggan untuk merubah penampilannya, hanya karena belum mampu menyelaraskan antara penampilan dan perilaku. Padahal, memperbaiki penampilan merupakan salah satu awal dari usaha untuk perbaikan perilaku. Di sini perlunya kesadaran Alim Ulama untuk meningkatkan perannya, agar masyarakat tidak sampai terjebak, sehingga hanya berhenti untuk menampilkan Islam secara luarnya saja.

Berkembangnya paham puritanisme Islam nampaknya mendukung pula akan gejala Islam Instant ini. Puritanisme Islam pada umumnya mengabaikan kultur dan perkembangan ilmu agama yang telah ada. Puritanisme Islam lebih senang langsung merujuk kepada Al-Quran dan hadits, tanpa memperhatikan penafsiran-penafsiran yang telah berkembang selama beberapa abad lamanya. Cukup mudah rupanya dengan langsung merujuk dua sumber di atas, tanpa meihat kembali berbagai penafsiran yang telah ada. Namun sikap ini hanya akan mengakibatkan keputusan yang tidak kontemporer.

Side effect dari Islam Instant ini adalah munculnya komunitas beragama yang kurang toleran. Keberagamaan yang lebih cenderung mengutamakan hal-hal yang bersifat luar akan mengakibatkan pandangan umat beragama menjadi hitam dan putih. Dengan kondisi masyarakat kita sekarang ini, maka pandangan hitam putih ini akan menyebabkan sikap yang intoleran dan mengarah pada anarkisme.

Iklan

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: