Archive for Oktober, 2008|Monthly archive page

0 dan 1 dalam sinyal dan kehidupan

Suatu saat saya berbincang-bincang dengan atasan saya. Dari perbincangan itu, ada wacana yang nampaknya baik pula untuk saya bagi.

Nampaknya, ada semacam keserasian antara berbagai disiplin ilmu. Karena apapun ilmu itu, semuanya adalah hasil penelitian dari alam ini yang nota bene diciptakan oleh satu Pencipta, dan dengan satu konsep penciptaan. Saya mendapati adanya kesamaan, antara bagaimana memproses sinyal komunikasi dengan bagaimana kita menghadapi hidup ini.

Dalam teori telekomunikasi, dengan berbagai pertimbangan tertentu, maka sinyal ditransmisikan dalam bentuk biner, kalau tidak bernilai 0, ya bernilai 1. Dalam kenyataanya, sinyal dengan nilai 0 dan 1 yang bervariasi ini (misal: 0100111100) dalam perjalanannya menuju tujuan, pasti mengalami berbagai gangguan (dalam istilah telekomunikasi : noise, interferens, dll.). Sehingga sinyal 0 dan 1 ini tidak benar-benar murni 0 dan 1. Agar sinyal yang sudah tidak murni itu dapat diterima dengan benar oleh tujuan, maka diperlukan suatu proses. Proses yang dimaksud adalah suatu proses yang membuat suatu sinyal dengan nilai tertentu, ditentukan sebagai nilai 0 atau 1, tergantung nilai itu mendekati ke mana, dan seberapa jauh toleransi yang diberikan. Pada akhirnya, bagianyang dituju mendapat sinyal yang sesuai dengan sinyal yang dikirim. Adapun terjadi kekeliruan, itu pun dengan peluang yang sangat kecil.

Begitu pula dengan cara kita menghadapi hidup. Suatu pedoman yang telah digariskan oleh Tuhan, tentunya telah menentukan mana hitam dan mana putih (0 dan 1). Dalam realita di masyarakat, pada umumnya idealisme yang telah digariskan (hitam dan putih) itu akan mengalami berbagai penyimpangan dan perubahan. Menghadapi kenyataan seperti itu, maka alangkah baiknya bila kita memiliki sikap toleransi dalam menentukan hitam dan putih tersebut. Alangkah bijaksana apabila kita tidak mematok bahwa putih itu harus benar-benar “1”. Adakalanya nilai “1” itu merupakan pembulatan dari “0,76”. Itulah realita yang terjadi. Sikap ini akan timbul, bila kita memiliki wawasan yang terbuka dan mampu melihat dari berbagai macam sudut. Mungkinkah ini terjadi, bila kita masih mengagung-agungkan kelompok kita sendiri, dan kemudian mengucilkan diri?

Bola

bola2

bola2

Suatu saat seorang profesor melakukan sebuah simulasi. Dia membawa satu ember, dua bola besar (memang besarnya tidak melebihi besarnya ember), sekarung kecil bola-bola kecil dan sekarung pasir. Kemudian sang profesor menyuruh dua mahasiswa untuk melakukan dua hal yang berbeda. pertama, mahasiswa disuruh untuk memasukan pasir, kemudian batu kecil dan akhirnya bola besar. Kedua, mahasiswa yang lain disuruh untuk memasukkan dua bola besar dahulu, kemudian memenuhi embernya dengan batu-batu kecil, dan akhirnya dengan pasir. Ternyata, mahasiswa kedua mampu memasukan semuanya, dan mahasiswa pertama tidak dapat memasukan satu bola besar karena ember telah terpenuhi material yang lain.

Berdasarkan simulasi di atas, Sang Profesor mengajukan satu pertanyaan kepada para mahasiswa. Hikmah apa yang didapatkan dari simulasi di atas? Ada satu mahasiswa yang menjawab bahwa berdasarkan simulasi itu, kita harus mengisi waktu kita dengan berbagai kegiatan mulai dari kegiatan yang besar sampai dengan kegiatan yang kecil sebesar pasir. Kemudian sang Profesor menanggapi jawaban mahasiswa itu. Sang Profesor mengemukakan bahwa jawaban sang mahasiswa benar, namun ada yang lebih penting dari makna itu. Bahwa, untuk mengisi waktu hidup kita, utamakanlah dahulu mengisi waktu dengan hal-hal yang penting seperti bola-bola besar. Kemudian, baru kita lengkapi dengan kegiatan-kegiatan lainnya yang lebih kecil. Apabila kita lebih mengutamakan memasukkan pasir dan batu kecil, maka dikhawatirkan, batu besarnya tidak akan masuk ke dalam ember.

Pertanyaan untuk kita semua: Apakaha bola besar dalam hidup kita?