Archive for the ‘hikmah’ Category

Doa meningkatkan keimanan

Rangkaian-rangkaian kata yang terangkum dalam sebuah doa, biasanya merupakan untaian mutiara kata yang diFirmankan Allah dalam AlQuran yang suci nan langgeng, atau merupakan sabda Nabi agung, atau bisa pula merupakan untaian kalimat yang disusun oleh para sahabat dan para ulama pewaris Nabi. Namun akhir-akhir ini, cukup populer juga, doa yang tersusun dari kalimat-kalimat yang lebih kontemporer, kondisional dan menyesuaikan dengan kebutuhan. Terkadang lebih spesifik. Semuanya itu menurut pemahaman penulis adalah sesuatu yang sah-sah saja.

Dalam doa-doa keseharian yang telah diajarkan, tercantum berbagai khasiat yang bersifat menyadarkan dan motifatif.

Diantaranya terdapat makna-makna yang menunjukkan kesadaran kita sebagai hamba yang sangat membutuhkan Rabb nya. Betapa sungguh kita disadarkan bahwa Allah benar-benar terlibat dalam kehidupan ini, dan semua terjadi apabila Allah menghendaki pula. Makna-makna ini, bila kita resapi secara mendalam akan semakin meningkatkan rasa penghambaan dan membutuhkan pertolongan Allah.

Namun disisi lain, dalam doa terdapat pula berbagai pengajaran. Seperti diantaranya dalam doa makan, bahwa kita diajarkan untuk senantiasa mencari rezeki yang berkah dan jauh dari api neraka. Dalam doa masuk mesjid kita diajarkan untuk senantiasa mencari rahmat (kasih sayang) ketika kita memasuki Rumah Tuhan. Dalam doa keluar mesjid, kita diajarkan untuk mencari berbagai keutamaan dan fadilah dalam setiap ikhtiar duniawi kita. Makna-makna itu semua dapat difahami tatkala kita tidak menjadikan doa hanya sebagai sarana pasif tetapi juga sebagai pendorong wasilah-wasilah aktif. Inilah yang dimaksud motivasi dalam doa.

Kesemua makna tersebut pada akhirnya akan senantiasa melatih manusia untuk senantiasa menginngat Allah, menyadari kehadiran Allah, dan Allah dijadikan sebagai pendorong untuk melakukan berbagai aktifitas. Semakin sering mengamalkan doa-doa keseharian, Insya Allah akan semakin kita ingat kepada Allah, semakin teballah iman kita. Itu semua dapat terlaksana apabila kita mau untuk mencoba manisnya isi, tidak hanya berbangga atas kulit.

Pengamalannya lebih mudah daripada penulisan artikel ini. Ini yang disadari penulis, namun tidak menjadi penghalang bagi penulis untuk berbagi pengalaman sebagai wasilah berwasiat dalam kebaikan.

Pola Turunnya Al-Quran –> Pola Belajar

Al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur selama kurang lebih 23 tahun. Dalam Al-Quran sendiri diceritakan bahwa ada Kaum Quraisy yang mempertanyakan pola penurunan tersebut. Al-Quran sendiri yang menjawab bahwa turunnya Al-Quran secara berangsur merupakan suatu metode agar Al-Quran lebih mudah dipahami. Ayat Al-Quran diturunkan berangsur dengan tema yang sesuai dengan kondisi atau masalah yang dihadapi saat itu. Dengan pola ini, maka Rasul dan Para Sahabat dapat memahami secara dalam karena langsung menerapkan isi ayat Al-Quran terhadap kondisi atau permasalahan yang ada.

Dari uraian di atas, dapat diambil tiga pelajaran.

pertama, Allah mengajarkan metode yang alami kepada manusia. Allah tidak mengajarkan sesuatu yang fantastis, seperti dalam sekejap Al-Quran dipahami. Tetapi Allah mengajarkan suatu metode yang bisa diikuti oleh setiap manusia, sebuah metode yang wajar, namun memiliki hasil yang maksimal.

Kedua, memahami Ayat Al-Quran tidak bisa terlepas dari kondisi saat turunnya ayat. Dalam istilah ilmu tafsir, terkenal pentingnya asbabun-nuzul (sebab turunnya ayat).

Ketiga, mengenai metode pembelajaran. Allah adalah Sang Maha Guru. Manusia semakin hari semakin belajar melewati penelitian terhadap alam, ciptaan Sang Maha Guru. Melewati penurunan Al-Quran ini, nampaknya Allah mengajarkan kepada manusia bahwa pola belajar yang baik adalah pola belajar “learning by doing”, pola belajar yang diiringi dengan praktek. Selain itu, pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan. Maka, diperlukan perencanaan yang matang mengenai arah pembelajaran (misal jurusan kuliah), agar benar-benar sesuai dengan kebutuhan.

Wallahu a’lam

0 dan 1 dalam sinyal dan kehidupan

Suatu saat saya berbincang-bincang dengan atasan saya. Dari perbincangan itu, ada wacana yang nampaknya baik pula untuk saya bagi.

Nampaknya, ada semacam keserasian antara berbagai disiplin ilmu. Karena apapun ilmu itu, semuanya adalah hasil penelitian dari alam ini yang nota bene diciptakan oleh satu Pencipta, dan dengan satu konsep penciptaan. Saya mendapati adanya kesamaan, antara bagaimana memproses sinyal komunikasi dengan bagaimana kita menghadapi hidup ini.

Dalam teori telekomunikasi, dengan berbagai pertimbangan tertentu, maka sinyal ditransmisikan dalam bentuk biner, kalau tidak bernilai 0, ya bernilai 1. Dalam kenyataanya, sinyal dengan nilai 0 dan 1 yang bervariasi ini (misal: 0100111100) dalam perjalanannya menuju tujuan, pasti mengalami berbagai gangguan (dalam istilah telekomunikasi : noise, interferens, dll.). Sehingga sinyal 0 dan 1 ini tidak benar-benar murni 0 dan 1. Agar sinyal yang sudah tidak murni itu dapat diterima dengan benar oleh tujuan, maka diperlukan suatu proses. Proses yang dimaksud adalah suatu proses yang membuat suatu sinyal dengan nilai tertentu, ditentukan sebagai nilai 0 atau 1, tergantung nilai itu mendekati ke mana, dan seberapa jauh toleransi yang diberikan. Pada akhirnya, bagianyang dituju mendapat sinyal yang sesuai dengan sinyal yang dikirim. Adapun terjadi kekeliruan, itu pun dengan peluang yang sangat kecil.

Begitu pula dengan cara kita menghadapi hidup. Suatu pedoman yang telah digariskan oleh Tuhan, tentunya telah menentukan mana hitam dan mana putih (0 dan 1). Dalam realita di masyarakat, pada umumnya idealisme yang telah digariskan (hitam dan putih) itu akan mengalami berbagai penyimpangan dan perubahan. Menghadapi kenyataan seperti itu, maka alangkah baiknya bila kita memiliki sikap toleransi dalam menentukan hitam dan putih tersebut. Alangkah bijaksana apabila kita tidak mematok bahwa putih itu harus benar-benar “1”. Adakalanya nilai “1” itu merupakan pembulatan dari “0,76”. Itulah realita yang terjadi. Sikap ini akan timbul, bila kita memiliki wawasan yang terbuka dan mampu melihat dari berbagai macam sudut. Mungkinkah ini terjadi, bila kita masih mengagung-agungkan kelompok kita sendiri, dan kemudian mengucilkan diri?

Bola

bola2

bola2

Suatu saat seorang profesor melakukan sebuah simulasi. Dia membawa satu ember, dua bola besar (memang besarnya tidak melebihi besarnya ember), sekarung kecil bola-bola kecil dan sekarung pasir. Kemudian sang profesor menyuruh dua mahasiswa untuk melakukan dua hal yang berbeda. pertama, mahasiswa disuruh untuk memasukan pasir, kemudian batu kecil dan akhirnya bola besar. Kedua, mahasiswa yang lain disuruh untuk memasukkan dua bola besar dahulu, kemudian memenuhi embernya dengan batu-batu kecil, dan akhirnya dengan pasir. Ternyata, mahasiswa kedua mampu memasukan semuanya, dan mahasiswa pertama tidak dapat memasukan satu bola besar karena ember telah terpenuhi material yang lain.

Berdasarkan simulasi di atas, Sang Profesor mengajukan satu pertanyaan kepada para mahasiswa. Hikmah apa yang didapatkan dari simulasi di atas? Ada satu mahasiswa yang menjawab bahwa berdasarkan simulasi itu, kita harus mengisi waktu kita dengan berbagai kegiatan mulai dari kegiatan yang besar sampai dengan kegiatan yang kecil sebesar pasir. Kemudian sang Profesor menanggapi jawaban mahasiswa itu. Sang Profesor mengemukakan bahwa jawaban sang mahasiswa benar, namun ada yang lebih penting dari makna itu. Bahwa, untuk mengisi waktu hidup kita, utamakanlah dahulu mengisi waktu dengan hal-hal yang penting seperti bola-bola besar. Kemudian, baru kita lengkapi dengan kegiatan-kegiatan lainnya yang lebih kecil. Apabila kita lebih mengutamakan memasukkan pasir dan batu kecil, maka dikhawatirkan, batu besarnya tidak akan masuk ke dalam ember.

Pertanyaan untuk kita semua: Apakaha bola besar dalam hidup kita?